Istirhami / Kamus Asasi Istirhami

bagian 1

Bismillahirrahmanirrahim

- Istirham:
Memohon rahmat Allah SWT dengan membaca, mewirid atau mendawam salah satu shalawat Ar Rahimiyyah atau al'Uzhma

- Imam:
Mereka yang mendawamkan dan sekaligus menda'wahkan Istirham secara terus menerus. Adapun pengertian mendawam bagi seorang Imam ialah membaca shalawat ini di malam-malam tertentu, utamanya malam Jumat dan malam 15 bulan Qamariah atau malam purnama, sedikitnya bersama 8 makmum

- Makmum :
Orang dewasa muslim-muslimah yang senantiasa mengikuti upacara Istirhami dengan tertib, antara lain mengenakan busana Istirhami.

- Kaum Istirhami:
Seluruh pembaca, pewirid, pendawam, penda'wah atau simpatisan Istirham termasuk kalangan non muslim-muslimah namun mentaati adat-istiadat Istirham.

- Dawam Qalbi:
Membaca Istirham secara terus menerus sepanjang waktu. Kalaupun
sesekali terhenti karena satu dan lain sebab, kemudian dilanjutkan lagi. Mereka yang melakukan dawam qalbi, tidak lagi membaca Istirham di lidah akan tetapi Istirham itu sendiri sudah menjadi kumpulan getaran dalam hati. Menurut beberapa Istirhami yang pernah mengalami, getar hati itu dapat 'didengar' meskipun dalam keadaan tertidur. Sehingga, bila seorang Istirhami itu tertidur pulas sepanjang malam, maka saat terbangun dia dapat melanjutkan susunan Istirham secara tertib, menyambung yang 'didengar' dalam hatinya ketika tidur pulas.

- Sorban:
Salah satu ciri khas seorang Istirhami adalah mengenakan sorban hitam terbuat dari kain kasar. Sorban ini sangat dianjurkan untuk dikenakan pada setiap shalat dan Peringatan Hari Besar Istirhami. Anjuran ini didasarkan kepada keinginan Abi Bismillah agar kaum Istirhami memiliki ciri dan kebanggaan tersendiri. Kecirian dan kebanggaan itu akan menjadikan kaum ini terbedakan dari kaum lainnya di dunia.

- Warna istirhami:
Seluruh pakaian maupun aksesoris berwarna hitam. Pilihan warna
ini, menurut para Imam, adalah lambang kerendahan hati, tawadhu' dan berserah diri atas segala perjuangan lahir maupun batin untuk memperoleh rahmat dan ridha Allah SWT. Namun Abi Bismillah pernah mengatakan bahwa beliau menyukai warna hitam Semata-mata karena Allah SWT yang telah menetapkan Kiblat kaum muslimin, Ka'bah, didominasi oleh warna hitam, mulai dari hajar aswad, dinding maupun kiswahnya. Warna ini oleh Abi Bismillah tidak lagi disebut sebagai 'warna hitam', tapi beliau mengganti sebutan itu menjadi 'warna Istirhami'.

- Abi Bismillah:
Penyusun dan penda'wah pertama Istirham, lahir di Jakarta, 12 Mei
1955. Dikaruniai 2 puteri dan 2 putera : Alfi Safira, Ratu Bilquis, Bismillah Almischat dan Gaish Albaits. Putera kedua dari pasangan KH. Muhammad Radjiun dan R. Hj. Siti Maryam, Abi Bismillah dari jalur ayahanda adalah keturunan ke 12 dari Pangeran Samandi Kadilangu, kerabat Kesultanan Demak, Jawa Tengah, sementara dari jalur ibunda mengalir darah Parahyangan.

- Bai'at:
Janji yang diucapkan oleh seorang calon Imam Istirham untuk menyatakan kesungguhan dalam mengikatkan diri kepada al Quran, al Hadis dan Jihad.

- Milad:
Istilah milad mulai dikenal akrab oleh kaum Istirhami pada ulang tahun ke III Istirham di Majelis Markazi Jakarta, 18 Shafar 1422 bertepatan dengan 12 Mei 2001. Pada kesempatan itu juga ditetapkan bahwa Milad Istirhami di tahun-tahun berikutnya diperingati pada setiap tanggal 18 Shafar. Pada upacara ini, dimanfaatkan juga sebagai malam anugerah kepada kaum Istirhami yang berjasa mengembangkan Istirham serta pelaksanaan bai'at bagi Imam-imam baru.

- I'tikaaf:
Berdiam diri selama 3/9 hari berturut-turut di ruang I'tikaaf Majelis Madani yang berukuran 2x1 m2, dengan mengenakan busana hitam, shaum di siang hari, tidak berkata-kata dan senantiasa membaca shalawat Istirhamiah serta selalu dalam keadaan suci. Pada akhir I'tikaaf, mandi dengan mengenakan selimut kain berwarna hitam ; kain tersebut kemudian dijadikan beberapa helai sorban untuk dibagikan kepada kaum lstirhami yang memerlukan. Bagi yang mampu, usai menjalani I'tikaaf dianjurkan untuk menyembelih hewan yang setara dengan hewan kurban untuk disedekahkan kepada anak-anak yatim, fakir-miskin serta masyarakat di sekitar Majelis Madani.

- Husnuzzhann:
Berprasangka baik kepada Allah SWT dalam menghadapi dan
memahami situasi yang tengah dihadapi. Sebagai contoh: ketika kita dihadapkan pada situasi dilematik dan sulit menentukan pilihan terbaik bila kita tidak lagi berkesempatan untuk melakukan shalat istikharah, I'tikaaf atau konsultasi ke pihak yang berkompeten, maka cara termudah untuk mengatasi situasi demikian ialah dengan Husnuzzhann bahwa Allah SWT akan memberi jalan keluar terbaik, meski indikasi penyelesaiannya terkesan kurang memuaskan hati. Ini, merupakan penegasan Allah SWT dalam Hadits Qudsi bahwa Dia berada pada perasangka hamba Nya.

- Su-uzzhann:
Berperasangka buruk, anonim dari Husnuzzhann. Memahami istilah ini, tidak hanya kepada Allah SWT akan tetapi juga hendaknya dihindari berperasangka buruk kepada sesama manusia, khususnya kepada sesama muslim dan utamanya kepada sesama Istirhami.

- Hikam:
Jama' atau plural, terambil dari lafaz hikmah yang mengandung pengertian 'hasil akhir yang baik', Dalam Istirham, hikam dimaksud ialah segala perbuatan kecil atau besar baik lahir maupun batin, selama dilakukan karena Allah SWT hampir dipastikan bermuatan hikam. Dan mereka yang memperoleh hikam, dipastikan memperoleh kebaikan yang tidak ternilai dari Nya. Sebagian kecil dari muatan hikam Istirham ialah: mimpi, pengobatan dan marhamah.

- Tawashul:
Diartikan sebagai akses ke wilayah spiritual, melalui para ulama, awliya dan anbiya yang termaktub dalam 9 susunan tawashul, mereka adalah : Rasulullah SAW, Malaikat Muqarrabun, Nabi Khidir AS, Syekh Abdil Qadir Jailani, Syekh Abil Hasan As-Syazili. Syeikhah Rabi'ah Adawiyah, Alhabib Husin Alaydrus, Imam Abdil Halim dan Abi Bismillah, Membaca tawashul kemudian menjadi syarat dalam mendawam Istirham, dibaca pada setiap kali akan memulai wiridan atau dawaman shalawat ini.

- Tertib:
Yang dimaksudkan dengan tertib ialah saat akan membaca, mewirid atau mendawam Istirham, seorang Istirhami sangat dianjurkan untuk melaksanakan tata-tertib berikut mengenakan busana hitam, berwudhu, shalat sunnah mutlak dua rakaat, bertawashul, membaca Istirham sekurang-kurangnya sejumlah 9 kali, diakhiri dengan pembacaan Doa Istirhami, dipimpin oleh seorang Imam. Sangat dianjurkan agar selama membaca Istirham, menghadap ke Kiblat. Usai membaca doa, Imam hendaknya berwasiat dengan merujuk pada surat al'Ashr. Anjuran lain dan merupakan kebiasaan yang diwariskan Abi Bismillah ialah mengakhiri wasiatnya dengan mengisahkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Istirham dari masa ke masa bersama para sahabat beliau.

- Kontrogravitas:
Paham yang ditanamkan Abi Bismillah kepada kaum Istirhami bahwa
gaya tarik duniawi adalah merupakan himpunan keperluan-keperluan baik lahir maupun batin. Terhadap himpunan itu, seorang Istirhami agar menyikapinya dengan menjaga jarak atau hudud agar tidak terperangkap dan menjadikannya sebagai kebutuhan. Sementara keterkaitan seorang Istirhami kepada Allah SWT, Rasulullah SAW
dan Jihad adalah merupakan kebutuhan.

- Arrahimiyyah:
Sebutan atau nama untuk 9 kalimat istirham. Arrahimiyyah lazimnya dianggap sebagai kunci untuk membuka tabir keluasan dan kehalusan shalawat ini. Sebab seluruh mata rantai lstirham tidak terputus dari roh ke 9 kalimat Arrahimiyyah.

- Al`Uzhma:
Sebutan atau nama untuk 99 kalimat Istirham. Al'Uzhma dianggap sebagai 'isi' dari Arrahimiyyah, kandungannya terdiri dari 9 kalimat Istirham disanding dengan 99 Asmaul Husna, Lazimnya, al'Uzhma merupakan dawaman para Imam, sebab untuk memulai pendawaman shalawat ini didahului dengan menjalani I'tikaaf di Majelis Madani serta merampungkan bacaan Arrahimiyyah sebanyak 9.999 kali dalam tempo 3-9 hari. Ketentuan lain yang disyaratkan bagi kaum Istirhami yang akan mendawam al'Uzhma, selain I'tikaaf, ialah diutamakan bagi mereka yang telah berkeluarga atau berkedudukan sebagai Shahibul Majelis.

- Mimpi:
Salah satu keutamaan Istirham bagi kaum Istirhami yaitu bermimpi. Mimpi dimaksud ialah: bertemu, bercakap-cakap atau sekadar melihat Abi Bismillah. Menurut mereka yang pernah mengalami, Abi Bismillah hadir dalam mimpi selalu mengenakan busana berwarna hitam. Kehadiran Abi Bismillah dalam mimpi, menurut mereka terkadang memberi nasihat, berwasiat atau sekadar menunjukkan kebaikan yang harus dilakukan. Apabila mimpinya terjadi pada seseorang yang tengah menjalani l'tikaaf dan tidak bertemu dengan Abi Bismillah, maka mimpi itu dapat diartikan sebagai petunjuk atas masalah yang tengah dihadapi oleh orang yang sedang menjalani I'tikaaf.

- Pengobatan Istirhami:
Sementara orang berkeyakinan bahwa Abi Bismillah adalah
seorang ahli pengobatan. Keyakinan itu terbukti dengan berduyunnya pasien dari waktu ke waktu ke Majelis beliau, baik di Markazi maupun di Madani. Sesungguhnya keyakinan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab kepada siapapun yang menemui beliau hanya diberi air putih dan sedikit garam. Atau terkadang, cukup dengan sedikit sentuhan jemarinya saja sudah dapat menjadi penawar keluhan tamunya. Yang insya Allah benar ialah Abi Bismillah dengan puluhan ribu kaumnya yang senantiasa menggemakan Istirham dari waktu ke waktu, sudah dapat menghangatkan beliau dengan lapisan selimut shalawat itu sendiri, Sehingga bila digambarkan bahwa sekujur tubuh Abi Bismillah terlapisi oleh istirham, maka sesungguhnya 'obat' yang dialirkan ke tubuh pasiennya bukanlah air putih, garam atau sentuhan magisnya, akan tetapi bias rahmat Allah SWT melalui puluhan ribu kaum Istirhami itulah yang berperan. Itu bukan monopoli Abi Bismillah. Seluruh kaum Istirhami insya Allah juga dapat melakukan hal serupa, karena mereka juga berada dalam ring lstirham yang sama.

- Marhamah:
Dari satu pemahaman, marhamah adalah salah satu hikam yang
terkandung dalam Istirham, di mana rasa saling mengasih dan saling menyayang antar kaum Istirhami tidak luntur oleh uluran waktu serta takkan lekang oleh kekangan situasi. Namun dari pemahaman lain, menurut Abi Bismiliah, marhamah merupakan roh sufistik yang mewarnai seluruh perilaku kaum Istirhami. Hal itu, bukan sekadar
pandangan atau anjuran Abi Bismillah tapi merupakan karakter beliau yang terbangun oleh kekuatan Istirham, hingga melahirkan perilaku marhamah dimaksud.

- RISE:
Reformation of the Istirhamic Sophism Ethics atau Reformasi Etika Sufisme Istirhami. Reformasi ini sesungguhnya wujud dari syiar, da'wah, tabligh atau sosialisasi Istirham secara aktual dan dinamis. Bentuk konkret dari reformasi dimaksud yaitu: terbentuknya masyarakat madani yang marhamah, masyarakat yang berpandangan jauh ke depan namun tetap peduli dan konsisten pada alur pikiran, sikapan dan tindakan keagamaan yang kuat serta mempraktekkan etika kerendahan hati kaum sufi.

- PASAR:
Singkatan dari Profesi, Aliran, Suku, Agama dan Ras. Singkatan ini terlahir dari kenyataan heterogenitasnya para tamu, pasien atau keluarga besar lstirham yang terdiri atas perbedaan profesi, aliran, suku, agama dan ras, namun mereka disatukan dalam kepentingan bersama dan adat istiadat lstirhami yang sama.

- Jihad lstirhami:
Jihad dimaksud ialah berjuang mengendalikan diri dari perangkap hawa nafsu yang bersifat duniawi. Kalaupun di kalangan kaum lstirhami tampak usaha gigih dengan bekerja keras, sungguh-sungguh berambisi mencapai tujuan yang diinginkan, itu tidak keluar dari ikatan syariat Islamiyah serta koridor lstirhami. Artinya: segala usaha yang ingin dicapai semata-mata karena mengharap rahmat Allah SWT.

- Adat lstiadat:
Tradisi atau kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah kaum lstirhami. Tradisi-tradisi dimaksud terjadi disebabkan oleh 3 faktor : Pandangan, sikapan dan keputusan Abi Bismillah, amal shalih kaum lstirhami yang diprakarsai uleh kaum itu sendiri dan budaya lokal-domestik yang tidak merusak akidah lslamiyah.