Istirhami / Kamus Asasi Istirhami

bagian 2

- Majelis:
Bersama Ir. Bambang Prasetyo, Abi Bismillah mendirikan Majelis di kawasan Megapolitan Jakarta Kota. Semula, Majelis yang berukuran 215 m2 ini dijadikan tempat berbagai urusan ummat, baik yang bersifat konsultatif, terapi maupun aktivitas spiritual lainnya. Pada perkembangan berikutnya, Ir. Budi Supraptono, Ir. Nazief Siddik, Ir. Bambang Prasetyo, H. Mustafid Karim dan H. Syamsul Ghazi Kailani melakukan terobosan dengan prakarsa pembentukan Dewan Ekonomi Majelis. Seiring dengan bertumbuh dan berkembangnya lstirham baik di beberapa propinsi Indonesia serta di mancanegara, maka kedudukan Majelis yang semula dikenal sebagai Majelis KH. Abdurrahim Radjiun ditingkatkan menjadi Majelis Markazi lstirhami.

- Markazi:
Majelis ini merupakan institusi lstirhami tertinggi dalam struktur organisasi lstirham. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis Manthiqi.

- Majelis Manthiqi:
Majelis ini merupakan institusi lstirhami di tingkat Propinsi. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis Madani.

- Majelis Madani:
Majelis ini merupakan institusi lstirhami di tingkat Kabupaten-Kotamadya. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis Qoumi.

- Majelis Qoumi :
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di tingkat Kecamatan. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis Quro.

- Majelis Quro:
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di tingkat Desa. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis Ahli.

- Majelis Ahli :
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di tingkat Dusun-Rukun Warga. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Majelis ‘Aili.

- Majelis 'Aili:
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di tingkat Rukun Tetangga. Kepemimpinan majelis ini terdiri dari 1 Imam + 8 makmum, masing-masing mewakili 8 Kepala Keluarga.

- Majelis Usri:
Majelis ini merupakan lingkar dalam Istirham, dipimpin langsung oleh kepala rumah tangga. Makmum pada majelis ini iaIah seluruh anggota keluarga termasuk para pembantu, sopir, tukang kebun atau petugas satuan pengaman.

- Majelis Idari:
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di tingkat Instansi, baik Pemerintah maupun swasta, Organisasi profesi, Badan Usaha Milik Negara, Kedutaan Besar, Konsulat Jenderal atau Konsulat Republik Indonesia di luar negeri serta Kedutaan besar, Konsulat Jenderal atau Konsulat negara sahabat di Indonesia. Kepemimpinan di Majelis ini dipegang oleh pejabat tertinggi pada instansi tersebut didampingi 8 makmum yang ditunjuk oleh Imam.

- Majelis Sya'bi:
Majelis ini merupakan institusi Istirhami di mancanegara, kedudukannya setingkat Majelis Manthiqi. Kepemimpinannya terdiri dari 1 Imam + 8 makmum yang dipilih secara musyawarah.

- Darjah Imamah:
Upacara Anugerah Kemuliaan dengan memberi gelar keimaman kepada orang yang dianggap berjasa dalam mengembangkan lstirham. Untuk pertama kalinya, gelar ini di berikan kepada 9 orang, masing-masing : al Imam H. Sudibyo Saleh,SH.,MH.; al Imam KH. Nur Ali Achmad, al Imam Ir. H. budi Supraptono,MBA., al Imam lr. Nazief Siddik, MBA., al Imam Deden, al Imam Mahsan Thabrani, al Imam H. Mustafid Karim, al Imam Achmad G. Kanyomal dan al Imam Zaini.

- Illat:
lafaz ini secara umum diartikan sebagai 'cacat'. Dalam kaitannya dengan Istirham, Illat dimaksud ialah : ucapan atau perbuatan yang mengindikasikan pengabaian atau bahkan pengingkaran atas kebijakan Majelis Markazi, maka kepada yang bersangkutan dikenakan sanksi menjalani I'tikaaf selama 3 hari berturut-turut dengan bershaum di siang hari dan membayar kaffaarah.

- Kaffaarah:
Dalam muamalah lstirhamiyah, istilah kaffaarah ialah bersedekah dengan memberi makan kepada 9 anak yatim atau fakir-miskin ; kaffaarah ini dikenakan sebagai sanksi bagi seorang Imam yang terkena illat atau cacat, Bagi yang tidak mampu bersedekah dalam bentuk makanan yang mengenyangkan, dapat diganti dengan bersedekah air putih kepada 9 orang yang sedang sakit. Kepada yang mampu, kesempurnaan membayar kaffaarah dengan menyembelih seekor hewan yang setara dengan syarat hewan untuk kurban.

- Shalli:
Shalawat atau doa. Lafaz ini terdapat pada bait pertama Istirham. Mereka yang bershalawat kepada Rasulullah SAW sekali, akan mendapat imbalan shalawat dari Allah SWTsebanyak sepuluh kali lipat.

- Sallim :
Selamatkanlah, Lafaz ini terdapat pada bait kedua lstirham. Secara umum, keselamatan dimaksud ialah keselamatan duniawi : fisik-material dan mental-spiritual, meliputi harta benda, profesi dan karir, hubungan antar individu serta keselamatan dalam arti seluas-luasnya. Tapi dalam pengertian khusus, keselamatan dimaksud ialah keselamatan lmani-lslami, keselamatan ukhrawi meliputi alam barzakh, padang mahsyar, mizan dan shirathal mustaqim. Pada akhirnya keselamatan itu sesungguhnya mewakili kerinduan seorang lstirhami untuk berkumpul bersama Rasulullah SAW di sorga.

- Baarik:
Berkahilah. Lafaz ini terdapat pada bait ketiga lstirham. Ukuran keberkahan yang dimaksud pada lafaz baarik tidak menggunakan takaran keduniaan dan bersifat materialistik. Keberkahan yarg ingin diraih melalui lafaz ini ialah kedekatan kepada lingkaran rahmat Allah SWT. Sehingga apapun kenyataan hidup yang dihadapi semata-mata lillahi ta'ala, karena Allah SWT.

- Akrim:
Muliakanlah. Yang dimaksud bukanlah sanjungan manusia atau kedudukan terhormat. Kemuliaan yang diharapkan ialah Kemuliaan lstirhami, yaitu dimuliakan oleh rahmat Allah SWT. Sebagai contoh : hingga saat ini, makam para awliya masih saja dipadati oleh para peziarah. Mereka memuliakan para awliya, padahal wali-wali itu telah wafat ratusan tahun ; kemuliaan demikian itulah yang jelas lebih kekal.

- Ahsin:
Baikkanlah. Dari lafaz ini kita berharap akan memperoleh segala bentuk kebaikan dari Allah SWT, baik duniawi maupun ukhrawi.

- Unshur:
Tolonglah. Keinginan dan harapan seorang lstirhami untuk mendapat pertolongan hanya dari Allah SWT. Tidak dari apapun dan dari siapapun. Kendati dalam keadaan sulit, seseorang mengulurkan tangan bantuannya untuk menolong, maka yakinlah bahwa sesungguhnya pertolongan itu dipastikan dari Allah SWT, hanya saja tersalur melalui tangan makhlukNya.

- Nawwir:
Cerahkanlah. Lafaz ini terdapat pada bait ketujuh lstirham. Kecerahan dimaksud pada lafaz ini ialah kecerahan yang disebabkan oleh nurullah, bias cahaya Allah SWT. Karena apabila mata kita dapat menangkap setitik sinar atau cahaya apapun di langit maupun di bumi, maka pada hakekatnya cahaya itu hanya merupakan titik cahaya Allah SWT, Adapun cahaya yang kita lihat di paberik, jalan raya, gedung, rumah dan lainnya, itu adalah cahaya Allah SWT yang 'dititipkan' Nya ke dalam akal-pikiran manusia.

- Ighfir:
Ampunilah. Lafaz ini tersisip di antara 9 bait shalawat lstirhamiyah, diharapkan dapat menjadi stimulator, perangsang bagi seorang lstirhami untuk memohon ampunan dari Allah SWT atas segala dosa besar atau kecil, baik disengaja maupun tidak.
Abi Bismillah pernah mengatakan bahwa seseorang yang berbuat dosa tapi mengakui kekhilafannya dan memohon ampun kepada Allah SWT, lebih baik dan orang yang tidak berbuat dosa namun merasa dirinya bersih dan tidak berkeinginan untuk istighfar.

- lrdha:
Ridhailah, relakanlah, restuilah. Lafaz ini merupakan puncak dari kerinduan seorang lstirhami kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Jihad. ltu, sama artinya bahwa seorang lstirhami berharap dan tidak akan pernah lelah merindukan agar seluruh amal-ibadahnya senantiasa dalam selimut keridhaan Allah SWT. Namun satu hal yang perlu dipahami bahwa ketika kita berharap memperoleh keridhaan Allah SWT atas perbuatan kita, maka pada waktu yang bersamaan hendaknya kita juga ridha atas segala keputusan Allah SWT atas diri kita.

- lrham:
Rahmatilah. Lafaz ini tersisip pada semua bait lstirham, baik Arrahimiyah, al ‘Uzhma' maupun Doa Istirhami, masing-masing terbaca warham, dikarenakan terdapat waw‘athaf huruf sambung yang berarti: dan

- Garda lstirhamia:
Pengertiannya mendekati lstirhamic Custodian [I.C] namun dalam arti fungsional, keduanya memiliki karakter dan standar operasional yang berbeda. IC lebih dititik beratkan pada layanan sosial-seremonial, sementara Garda lstirhamia [Garist] cenderung difungsikan sebagai satuan elit lstirhami dalam menegakkan disiplin, pembentukan karakter kaum lstirhami ke arah yang posisitf-konstruktif seperti pembentukan satuan beladiri, penyelenggaraan pelatihan fisik dsb. Garist juga diperankan secara eksplisit untuk melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, investigasi dan motivasi antar kaum lstirham.

- Silaturrahmi lstirhami:
Secara umum, silaturrahmi diartikan sebagai sambung kasih dengan cara saling kunjung, saling berkomunikasi melalui surat, telepon atau setidaknya menitip salam. Sedangkan Silaturrahmi lstirhami memiliki cara khas yang teramat indah, yaitu dengan berkirim hadiah al Fatihah dan membacakan lstirham, ditujukan kepada orang yang dirindukan atau sekadar menunjukkan rasa kasih-sayang serta sikap hormat yang tulus kepada seseorang. Hal ini terjadi dari waktu ke waktu di antara ribuan kaum lstirhami di seluruh dunia. Tata cara yang ditetapkan dalam bersilaturrahmi lstirhami yaitu ; antar lstirhami, saling berkirim al Fatihah dengan menyebut nama-nama yang dihadiahkan ; dan bila al fatihah itu ingin dihadiahkan kepada salah seorang Imam, hendaknya sapaan untuk nama yang bersangkutan dilengkapi dengan sebutan : al Imam. Hal serupa juga berlaku bagi segenap anggota keluarga yang ingin bersilaturrahmi terhadap kepala keluarganya, akan lebih santun dengan menyebutkan : al lmam di depan nama yang bersangkutan. lni merupakan Tabligh lstirhami atau Da'wah lstirhamiyah secara langsung dan efektif.

- Cahaya:
Mereka yang pemah menjalani I‘tikaaf, hampir semuanya terlena oleh buaian cahaya kemilau melintas di hadapannya, dengan segala bentuk, ukuran dan aneka warnanya. Kaum lstirhami senantiasa husnuzzhann bahwa cahaya dimaksud adalah bias dan rahmat Allah SWT yang akan mengantar seorang lstirhami kepada kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Bahkan pernah terjadi, di ruang kecil tempat I'tikaaf itu, dipadati oleh 5 orang. Saat mereka tengah khusyu' membaca Istirham dalam kegelapan, tiba-tiba ruang itu terang benderang sehingga batu-batu kerikilpun tampak jelas. Itu terjadi hanya beberapa menit saja. Hal serupa juga pernah dialami oleh al Imam Nur Ali Achmad Dasuki, ketika ziarah di makam Rasulullah SAW, sambil membaca lstirham ; dan dalam ruang makam, beliau melihat cahaya terang yang tidak tampak oleh orang lain. Al Imam Syamsuddin juga mengalami hal yang sama, saat membaca lstirham di masjid Mohammad Bolkiah, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam : melihat cahaya yang sangat cemerlang sebesar kelereng, bergerak lamban di hadapannya selama beberapa detik.

- Ra-yul'Ain :
Melihat dengan mata-kepala. lni dialami oleh beberapa lstirhami. Ivan, kemenakan al Imam Nazief'Shiddik, sering 'dikunjungi' oleh Abi Bismillah, dalam keadaan sadar. Nasir,juga menyimpan kisah yang unik : setiap menjelang shalat, selalu saja nampak seseorang yang tidak dikenalnya, mengenakan sorban dan busana serba hitam. Baru beberapa pekan kemudian, atas petunjuk gurunya, Nasir singgah di Majelis Markazi lstirhami dan melihat gambar berukuran besar Abi Bismillah, Nasir terkejut dan berkeyakinan bahwa yang mendatanginya selama ini adalah Abi Bismillah. H. Asikin, menyimpan cerita yang lebih unik lagi. Suatu hari Jumat, menemui Abi Bismillah di