Istirhami / Turats

Turats 37 s/d 45

Ketika shalat shubuh
bersama kaum Istirhami di Majelis Markazi,
aku berdoa dengan kedua telapak menghadap ke langit untuk membaca qunut.
Seketika itu aku terbayang perintah Allah SWT dalam surat al Ahzab 56
agar segenap kaum mukmin bershalawat kepada Nabi
maka kuucapkan Istirham di akhir qunut
dengan suara terbata~bata dan linangan air mata yang tak terbendung.
Aku bersumpah : Demi Allah, aku 'merasa' ayat itu sebagai perintah
yang ditujukan kepadaku dan segenap kaum Istirhami.
Dan kita telah tunaikan perintah itu.
[Turats : 37]

Jadilah Imam,
Sebarkanlah Istirham,
hangatkan rumahmu dengannya siang-malam,
maka hidup akan tentram.
[Turats : 38]

Hati dan pikiranku
telah terikat erat oleh kaum Istirhami
yang selalu mendoakanku dan selalu kudoakan mereka.
Aku senantiasa ingin bersama mereka dalam kelapangan atau kesempitan.
Sesekali kudekati mereka dari kejauhan atau kujauhi mereka dari kedekatan
Mata dan hati mereka telah membangun ketajaman matahatiku.
Kudengar kebaikan dari mereka dan mereka dengar kebaikan dariku.
Kubawakan setitik api Istirhami untuk menghangatkan kehidupan mereka.
Dan mereka tebarkan cahaya marhamah sepanjang jalan hidupku.
[Turats : 39]

Keluasan hati seorang Istirhami
diukur dengan anggapan : sekecil apa dunia ini
dan segala persoalan yang menghiasinya;
sebaliknya, kesempitan hati mereka
ditandai dengan anggapan:
sebesar apa dunia ini
dan segala persoalan
yang menghiasinya.
[Turats : 40]

Tiga
Indera utama dan pertama
yang Allah SWT perlengkapi pada seseorang
ketika berada di alam rahim :
as Sami'' [pendengaran], al Abshar [penglihatan]
dan al Af-idah [matahati] ;
ketiga indera itu menempati baris terdepan
untuk menegakkan atau justru tumbang
dalam membangun nilai-nilai kehidupan.
Dan Istirham, Insya Allah cukup handal
sebagai pagarnya.
[Turats :41]

Ketika aku sedang rehat di serambi
masjid Raudhatul Jannah, Rawa Buaya, Cengkareng,
Jakarta Barat, didampingi dua santri dari Australia : Phillip Ilmenstein dan Ashley,
Tiba-tiba mereka berdua merundukkan kepala berkali-kali sambil menutupi mata. Karena
hal itu dilakukan berulang-ulang, kutanyai mereka. Jawabannya : mereka melihat
cahaya yang teramat terang melingkari kepalaku sehingga mata mereka tidak kuat
menatapnya. Demi Allah yang jiwa-ragaku dalam genggaman Nya,
Dia SWT telah menganugerahkan sesuatu yang tak pantas kusebut.
[Turats : 42]

Sembilan hari tanpa makan,
seseorang masih dapat bertahan hidup.
Sembilan jam tanpa minum,
Seseorang sungguh-sunguh masih hidup.
Sembilan menit tanpa udara,
seseorang sudah berada di jendela kematian.
Sembilan detik tanpa roh,
seseorang sunguh-sungguh sudah mati.
Perhatikanlah :
makan dan minum
adalah rizki yang dapat dicari,
sedangkan udara dan roh
adalah rahmat yang diberi,
maka dahulukanlah memelihara
dan mensyukuri
dua pemberian yang terakhir
dari pada memohon
dan menikmati pencarian
dua yang pertama
[Turats : 43]

Keberhasilan seorang Istiharmi
tidak disebabkan oleh kelincahan tangannya.
Kegagalan mereka bukan dikarenakan tergelincir kakinya.
Kaum ini menganggap keberhasilan dan kegagalan hanya
sebagai pergeseran rahmat dari depan
ke belakang atau sebaliknya.
[Turats :44]

Kekayaan dan kemiskinan
dalam pandangan dan sikapan seorang Istirhami
tidak dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan atau kegagalan
mereka paham bahwa dunia tidak hanya 'akrab'
dengan keberhasilan kaum kaya
atau kegagalan kaum miskin, tapi juga 'bersahabat'
dengan keberhasilan kaum miskin
dan kegagalan kaum kaya;
dan seorang Istirhami hanya mendengar
dan melihat kekayaan,
kemiskinan, keberhasilan serta kegagalan
dengan menggunakan fuad,
matahati yang paling jernih.
[Turats :45]